Sunday, May 24, 2009

Jazz yang “Tak Dianggap”



* Merujuk hengkangnya Wynton Marsalis dari “Blue Note”

Handry TM


Tak ada kepedihan lain di hari Kamis (15 Mei 2009), yang mampu menandingi berita hengkangnya trumpeter Wynton Marsalis dari Blue Note. “Wynton Says Goodbye to Blue Note,” demikian Jazz Times menulis di berita utamanya dengan penuh provokasi.

Sedemikian pentingkah berita kepindahan Direktur Artistik Program Jazz di Linclon Center New York City ini, dari Blue Note Records ke Orchard? Menjadi sangat penting, karena peraih Pulitzer Prize 1997 (Blood on the Fields) ini termasuk pemikir jazz berpengaruh di akhir abad 20. Terutama di kawasan Amerika.
Bahkan John F Szwed, profesor antropologi Musik di Yale University memuji, Wynton satu grade lebih unggul dari gaya “temperamental” Cecil Taylor atau isme “intelektual” Monk yang naif. Dibanding kakak tertuanya, Branford Marsalis, pemain trumpet berusia 48 tahun ini tetap tak tertandingkan.
Publik jazz dunia tercengang atas keputusan tersebut, karena sedemikian mesranya hubungan kerjasama pencetak 70 CD rekaman ini dengan Blue Note. Diawali pada 2004 saat merilis album The Magic Hour, dan berakhir dengan album He and She pada Maret 2009. Tahun 2008 lalu kedua belah pihak sempat menutupnya dengan kemesraan sangat manis lewat rilis album Two Men With the Blues. Dinilai sebagai album penuh kenangan, karena di dalamnya berisi konsep dan gagasan dua “jawara” beda rasa. Wynton mengajak serta pemusik country legendaris, Willie Nelson. Dua sikap musik yang bertabrakan, namun bisa dipadukan dalam satu frame menawan.
Apa saja yang ia dapat dari rumah barunya itu? Sepertinya Orchard memberi Wynton segala hal. “Wynton akan tampil dengan wajah dan kewenangan baru,” tulis rilis edaran dari Orchard. Mulai dari kewenangan menjadi co-production setiap produksi rekaman, marketing untuk rekaman live, desain dan inisiatif bagi setiap kolaborasi terhadap karya produksinya. Tidak heran, kontrak dari Orchard ini disebutnya sebagai new “multi faceted.”

“Ill-fitted”
Alasan kepindahan tersebut sungguh bisa ditebak. Menangkap format moral komposer kelahiran 18 Oktober 1961 di New Orleans - Louisiana ini di masa lalu, ditaksir Wynton sedang kecewa dengan kontrak kerja Blue Note. Ketidakcocokan (ill-fitted) itu pasti akan ditebus habis-habisan oleh perusahaan barunya. Jauh-jauh hari, Wynton sering wanti-wanti terhadap konsep pembaharuan atas musik jazz. Naifnya, konsep itu malah kerap diledek para kritikus sebagai anti inovasi.
Perjuangan pencetak gold albums, antara lain The Majesty of the Blues (1989), Baroque Duet (1992, bersama Kathleen Battle), Joe Cool's Blues (1995, bersama Ellis Marsalis) dan The Magic Hour (2004), sungguh menyakiti hati para jazzer muda. Karena lewat pernyataannya, semua pembaharuan musik jazz era kini justru dianggapnya sebagai sebuah ketololan. “Modernisasi jazz saat ini, bisa jadi lebih mundur daripada jazz di awal-awal zaman,” katanya.
Dirinya bahkan mengritik teknik improvisasi solo dalam jazz kontemporer yang terlalu panjang. “Kembalikan pencapaian tertinggi jazz dengan mengalah pada ensamble seperti pada jazz masa lalu,” lanjut peraih Grammy Award untuk album Think of One (1983), Hot House Flowers (1984), Black Codes From the Underground, Black Codes From the Undergroun, J Mood, Marsalis Standard Time - Volume I (semuanya tahun 1985).
Yang lebih mencengangkan lagi, tentu saja -- ketika dengan lantang Wynton Marsalis meyakini bahwa “Jazz tak pernah ditinggalkan zaman, makanya tidak perlu direformasi dengan cara yang memaksakan.”
Meski dipuji-puji sebagai penerus gagasan-gagasan besar para maestro jazz di masa lalu, Wynton tak ingin mengontemporerkan reportar-repoortoar mereka. Dengan visinya yang sangat ketat dan konservatif, Wynton mencoba mempersembahkan dedikasi itu lewat album Marsalis Plays Monk – ( Standard Time Vol. 4). Di album itu terdapat nomor-nomor seperti Worry Later yang cukup berani, Four In One yang melankolik, serta Reflections yang impresionistik.
Dalam proyek tersebut ia melakukan elaborasi teknis. Terbentuklah super-tim yang terdiri atas Reginald Veal (bass), Wessell Anderson (alto saxophone), Walter Blanding Jr. (tenor dan soprano saxophone), Victor Goines (tenor dan soprano saxophone), Ben Wolfe (bass), Wycliffe Gordon (trombone), Eric Reed, (piano) dan Herlin Riley (drums).
Nampak, etnomusikal yang ia usung mewujud sebagai paham premordialisme yang tak kunjung hilang. Tertangkaplah apa yang oleh para pengamat jazz Amerika disebut sebagai Harlem Renaissance dalam format yang beda. Wynton bukan tidak sadar akan hal itu. Sikap kerasnya sekadar hendak menguji, hingga di mana jazz klasik yang “tak dianggap” itu terus melaju melebihi zamannya.
Di Orchard, Wynton pasti akan bekerja dengan posisi tawar. Sebagaimana sepak terjang Wynton Marsalis selama ini dalam membangun kerangka bermusik. Kompetensi Wynton kerap terlihat –perpaduan antara skill bermusik tinggi dan pemahaman berkomposisi. “Ketika yang lain mengatakan, jazz harus dikomparasi dan dimodernisasi, saya justru berkata sebaliknya.”
Karena ya itu tadi, jazz tak pernah ditinggalkan zamannya.



Marsalis Files

Wynton Marsalis lahir dari pasangan Dolores Ferdinand (musisi) dan Ellis Marsalis (pianis, penyair dan fotografer). Orangtuanya melahirkan 6 anak, masing-masing Branford (lahir 1960), Wynton (lahir 1961), Ellis III (lahir 1964), Delfeayo (lahir1965), Mboya Kinyatta (lahir 1971), dan Jason (lahir 1977). Selain Wynton, Branford, Delfeayo dan Jason juga menekuni musik jazz.
Keluarga Marsalis sangat menaruh perhatian terhadap musik. Usia enam tahun, Wynton belajar trumpet dari teman sang ayah, Al Hirt. Baru delapan tahun berikutnya tampil bersama New Orleans Philharmonic. Pada tahun 1978, Wynton mempertaruhkan keberuntungannya, menjadi siswa di Juilliard School of Music, New York City. Di kota inilah, debutnya sangat dicatat sebagai penggagas musik jazz paling menonjol di tahun 2000-an.

Saturday, January 24, 2009

Wood' Lagi


Tahun 2006, bersama-sama Cefed dan sejumlah teman mantan wartawan ketika dulu sekantor di tabloid tren, kami mendirikan Woodbiz. Sebuah tabloid yang menurut saya, cukup elegan sebagai sebuah pencitraan publik terhadap Cefed. Sebuah informasi free untuk para pebisnis, praktisi dan analis furniture, terbit tiap bulan dengan 16 halaman. Yang membanggakan, hingga kini pun Woodbiz masih berdiri, meski sepeninggalan tim kami, agak bergeser cara tampilannya.


Selang tiga tahun kemudian, beberapa "orang dalam" Woodbiz yang kini sudah tidak lagi bersama-sama tabloid itu, tiba-tiba menghubungi saya. Mereka akan membuat sebuah magazine serupa "Tapi lebih teknis, lebih mengerucut tentang kayu," kata Christianto Prabawa, orang muda, aktivis Ikatan Alumnus PIKA (Pendidikan Kayu) Semarang.


Alhasil, saya dihadapkan oleh sekitar 5-10 alumnus yang rata-rata kini sudah pada jadi eksporter furniture dan industriawan kayu sukses. Mereka alot dan tidak serta-merta selalu menerima konsep saya, sekalipun sangat ngebet ingin menerbitkan sebuah magazine. Toh, pilihan untuk terbit lebih kuat dibanding perbedaan konsep yang selalu kami perdebatkan.


Untuk tidak gegabah, magazine bernama MEDIA KAYU itu terbit triwulan, "Namun mantap di sisi iklan," kata Chris, orang yang jatuh bangun, siang malam -- selalu bekerja untuk penerbitan magazine ini. Kontrak pun rata-rata setahun penuh, dan ini yang menggembirakan saya. Cuma, akhirnya mesti tahu diri. Saya membawa lembaga Ezzpro Media, sebagai sebuah lembaga jasa penyelenggara media. Risikonya, tidak perlu terlibat secara manajerial di dalam pengelolaan bisnisnya. Kami juga sepakat, untuk sementara akan mengawal magazine ini hingga 4 edisi (setahun) saja, selebihnya silakan berjalan sendiri.


Yang unik, sekalipun lagaknya hanya industri rumahan, Ezzpro Media tak bisa dikelola secara main-main. Sepanjang tahun 2009, secara bersamaan kami akan mengelola sejumlah media sekaligus. Masing-masing Tabloid Planet Badminton (bersama PBSI dan sponsor Djarum), Salam Lebaran (bersama LA Light), Majalah Ganecha (Dinas Pendidikan Prov Jateng), Media Kayu (bersama Ikatan Alumni PIKA), menyusul Etnosinema (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov Jateng) dan mulai Februari ini mengakuisisi sepertiga saham tabloid Warta Pos.


Sebesar apa lembaga penyelenggara yang saya bidani? Sekadar lembaga "virtual" dengan kantor dan karyawan sangat "virtual."


Meniru semangat awal mula pendirian Yahoo atau Google, kami cuma satu meja kerja dengan seperangkat komputer di atasnya. Karyawan lepasan yang terdiri dari seorang kurir (pembantu umum), 4 tenaga packaging dan sekitar 5 tenaga reporter lepas serta 3 tenaga grafis yang juga masih bekerja di kantor masing-masing. Fasilitas kerja yang dimiliki? Satu perangkat komputer, satu laptop, sebuah kamera Nikon D-60 yang barusan dibeli tiga bulan lalu seharga Rp. 10 juta, serta sebuah mobil Xenia keluaran 2004 yang barusan dikredit dari sebuah lising setia.


Saya tak tahu lagi apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Sungguh, usaha jasa ini tak siap besar lantaran berawal hanya dari cita-cita yang sekadar "bertahan." Tapi, kondisi terakhir yang seperti ini serasa sulit untuk mundur ke belakang. Ini bukan pekerjaan iseng. Ini kerja sungguhan...

Wednesday, January 14, 2009

Tunggu tanggal mainnya
satu lagi dari ezzpro media!

Sunday, October 12, 2008

gambar: Ozza 'VA

Sadarkah, bahwa istri yang selama ini
mendampingimu berpuluh tahun, barangkali
telah keliru mengambil pilihan?

Ia membiarkan dirinya MENJADI TUA bersamamu.
Siapa tahu, bersama yang lain akan
lebih baik dari sekarang.
Maka dari itu, muliakanlah
perempuan-perempuan salah pilihan itu.
Bahagiakanlah dan cintailah….

(MARIO TEGUH, “Golden Ways,” Metro TV).

Civilian Jazz “in FUSION”

MALAM yang cerah, 11 Oktober – Sabtu.
Sembilan grup band anak-anak SMA tampil nge-jazz di Civilian Jazz Fest’08, di Pelataran Parkir Fakultas Teknik Undip. Malam itu, saya ingin bernostalgi terhadap aktivitas hampir 17 tahunan lalu, ketika di tahun 1990-an, saya “menyelesaikan” masa-masa akhir saya sebagai peliput berita-berita musik. Utamanya jazz untuk Suara Merdeka.
Nostalgia ini demikian lengkap, karena di sudut sana terlihat sebagai juri Bambang Iss, senior saya di Suara Merdeka dulu, di samping ada Chandra, mantan bassist Kamadhatu, grup jazz yang pada masa itu sangat terkenal di Semarang. Juri satunya lagi, Lisa, saya tidak mengenal, kecuali beberapa kali pernah terlihat berakivitasnya sebagai panitia penyelenggara musik.
Di stage, tampil band tamu Cyrcle, yang mendeklarasikan nama baru mereka: Rencang (Temen, bhs Jawa). Eh, personel grup jazz itu beberapa juga “anak-anak lama” yang saya kenal. Ada Antok (keyboard), dulu Anak SMA 3, yang merajai juara festival. ChandraKamadhatu” juga nimbrung.


all jarreau, neh !
foto: htm

Yang saya tidak pernah berani berharap, Ezza – kakak OVA, duduk di balik drum salah satu kelompok jazz ABG Semarang. Mereka menyebut nama IN FUSION. Bahkan hati saya bersorak tatkala IN FUSION tampil dengan beberapa nomor, salah satunya All Jarreau.
Tentang penmpilan Ezza, anak sulung saya ini, menurutku bolehlah sebagai pemula. Dulu, ketika nerocos tentang pengalaman ayahnya ngeliput Jakarta Jazz Festival, Woodstock di New York, atau nonton konsernya Casiopea, Shakatak atau Sadao Watanabe hingga Chika Assamoto, ia cuma mencibir. Anak 16 tahun itu di rumah benar-benar bertindak sebagai “lawan perang.” Dia bilang, “Nggak usah ikut-ikutlah, Pak. Itu dunia Bapak, beda. Bapak ini sok jazz ah, aliran tua.Aku sing nglakoni,” katanya
Ha ha ha, kini ia terjebak. Apalagi ketika dewan juri memberi kemenangan Khatulistiwa, bassnya anak Fredo Kistanto (wartawan Kedauluatan Rakyat), temanku juga.
“Menurut Bapak gimana, Khatulistiwa nggak ada jazz-nya. Itu aliran dagelan, kok menang. Padahal jurinya Om Bambang Iss,” ia minta pendapat.
Ohoi, Ezza sudah berani mengemukakan pendapat. Memang sih, sepanjang saya menjadi juri festival band di Semaranng, Khatulistiwa tak pernah menjadi juara pertama di mana-mana. Selain vulgar, soul-nya tak pernah kena. Dalam hati nih, kalau saya jadi juri, pemenangnya pasti bukan IN FUSION, tapi tak mungkin Khatulistiwa. Saya jagoin Groovy Losov
y – SMA 1.

Yah, emang Om Bambang Iss gak bisa pikun juga!

Friday, October 10, 2008

Rijal-Greys, Pisah, oi!!


Babak baru terjadi di penerbitan Planet Badminton. Setelah berjalan hampir 21 bulan (edisi), geliat Free Tabloid khusus untuk tema bulutangkis ini bakal mengalami babak-babak berikutnya. Tahapan sebelumnya, Planet Badminton berhasil konsisten tampil tanpa henti sebagai tabloid profesional. Kemudian berhasil menjaring iklan-iklan sekelas Polytron, Djarum, Wings, OT Food, Yonnex, dll.

Kini, kami sedang harap-harap cemas dengan hasil promo ke http://www.bulutangkis.com/, portal terbesar warta bulutangkis di Indonesia. Sejak Planet Badminton nampang di portal itu, setiap hari pertanyaan dan permintaan delivery datang puluhan.

Semangat pasang dan surut, hantaman dan kendala bersaling-silang. Tapi karena semangat atas kecintaan terhadap bulutangkis Indonesia tak pantang menyerah. Kami pun cukup lega, ketika membaca email dari pembaca nun jauh di sana, minta dikirimi Planet Badminton secara berlangganan, di Hongkong.

Kepada siapa saja yang berminat berlangganan, silakan hubungi Mira Lestari, Hotline: 02193392477, atau via email: planetb_ina@yahoo.co.id

Sunday, October 5, 2008

OV


"Panggil aku 'OVa.' Lengkapnya, Ozza Vajira Ainuna. Tapi, aku pengin dipanggil dengan nama O'Winartama. Karena Bundaku bernama Winarni, dan Ayahku H Utama."
Kelas 5 SD Al Azhar, Tembalang-Semarang. Nggak pinter-pinter banget, tapi aku seneng menggambar. Seperti kakakku, aku mulai seneng musik. Kakak bisanya nge-drums, aku lead guitar.

"Panggil aku OVa, aku nggak pengen seperti ayah, kerja di rumah, suntuk di komputer, bangunnya selalu kesiangan. Aku pengen mapan, kerja di kantor, layak, seperti orang-orang."

Makanya, aku nyiapin diri dari sekarang.