
* Merujuk hengkangnya Wynton Marsalis dari “Blue Note”
Handry TM
Tak ada kepedihan lain di hari Kamis (15 Mei 2009), yang mampu menandingi berita hengkangnya trumpeter Wynton Marsalis dari Blue Note. “Wynton Says Goodbye to Blue Note,” demikian Jazz Times menulis di berita utamanya dengan penuh provokasi.
Sedemikian pentingkah berita kepindahan Direktur Artistik Program Jazz di Linclon Center New York City ini, dari Blue Note Records ke Orchard? Menjadi sangat penting, karena peraih Pulitzer Prize 1997 (Blood on the Fields) ini termasuk pemikir jazz berpengaruh di akhir abad 20. Terutama di kawasan Amerika.
Bahkan John F Szwed, profesor antropologi Musik di Yale University memuji, Wynton satu grade lebih unggul dari gaya “temperamental” Cecil Taylor atau isme “intelektual” Monk yang naif. Dibanding kakak tertuanya, Branford Marsalis, pemain trumpet berusia 48 tahun ini tetap tak tertandingkan.
Publik jazz dunia tercengang atas keputusan tersebut, karena sedemikian mesranya hubungan kerjasama pencetak 70 CD rekaman ini dengan Blue Note. Diawali pada 2004 saat merilis album The Magic Hour, dan berakhir dengan album He and She pada Maret 2009. Tahun 2008 lalu kedua belah pihak sempat menutupnya dengan kemesraan sangat manis lewat rilis album Two Men With the Blues. Dinilai sebagai album penuh kenangan, karena di dalamnya berisi konsep dan gagasan dua “jawara” beda rasa. Wynton mengajak serta pemusik country legendaris, Willie Nelson. Dua sikap musik yang bertabrakan, namun bisa dipadukan dalam satu frame menawan.
Apa saja yang ia dapat dari rumah barunya itu? Sepertinya Orchard memberi Wynton segala hal. “Wynton akan tampil dengan wajah dan kewenangan baru,” tulis rilis edaran dari Orchard. Mulai dari kewenangan menjadi co-production setiap produksi rekaman, marketing untuk rekaman live, desain dan inisiatif bagi setiap kolaborasi terhadap karya produksinya. Tidak heran, kontrak dari Orchard ini disebutnya sebagai new “multi faceted.”
“Ill-fitted”
Alasan kepindahan tersebut sungguh bisa ditebak. Menangkap format moral komposer kelahiran 18 Oktober 1961 di New Orleans - Louisiana ini di masa lalu, ditaksir Wynton sedang kecewa dengan kontrak kerja Blue Note. Ketidakcocokan (ill-fitted) itu pasti akan ditebus habis-habisan oleh perusahaan barunya. Jauh-jauh hari, Wynton sering wanti-wanti terhadap konsep pembaharuan atas musik jazz. Naifnya, konsep itu malah kerap diledek para kritikus sebagai anti inovasi.
Perjuangan pencetak gold albums, antara lain The Majesty of the Blues (1989), Baroque Duet (1992, bersama Kathleen Battle), Joe Cool's Blues (1995, bersama Ellis Marsalis) dan The Magic Hour (2004), sungguh menyakiti hati para jazzer muda. Karena lewat pernyataannya, semua pembaharuan musik jazz era kini justru dianggapnya sebagai sebuah ketololan. “Modernisasi jazz saat ini, bisa jadi lebih mundur daripada jazz di awal-awal zaman,” katanya.
Dirinya bahkan mengritik teknik improvisasi solo dalam jazz kontemporer yang terlalu panjang. “Kembalikan pencapaian tertinggi jazz dengan mengalah pada ensamble seperti pada jazz masa lalu,” lanjut peraih Grammy Award untuk album Think of One (1983), Hot House Flowers (1984), Black Codes From the Underground, Black Codes From the Undergroun, J Mood, Marsalis Standard Time - Volume I (semuanya tahun 1985).
Yang lebih mencengangkan lagi, tentu saja -- ketika dengan lantang Wynton Marsalis meyakini bahwa “Jazz tak pernah ditinggalkan zaman, makanya tidak perlu direformasi dengan cara yang memaksakan.”
Meski dipuji-puji sebagai penerus gagasan-gagasan besar para maestro jazz di masa lalu, Wynton tak ingin mengontemporerkan reportar-repoortoar mereka. Dengan visinya yang sangat ketat dan konservatif, Wynton mencoba mempersembahkan dedikasi itu lewat album Marsalis Plays Monk – ( Standard Time Vol. 4). Di album itu terdapat nomor-nomor seperti Worry Later yang cukup berani, Four In One yang melankolik, serta Reflections yang impresionistik.
Dalam proyek tersebut ia melakukan elaborasi teknis. Terbentuklah super-tim yang terdiri atas Reginald Veal (bass), Wessell Anderson (alto saxophone), Walter Blanding Jr. (tenor dan soprano saxophone), Victor Goines (tenor dan soprano saxophone), Ben Wolfe (bass), Wycliffe Gordon (trombone), Eric Reed, (piano) dan Herlin Riley (drums).
Nampak, etnomusikal yang ia usung mewujud sebagai paham premordialisme yang tak kunjung hilang. Tertangkaplah apa yang oleh para pengamat jazz Amerika disebut sebagai Harlem Renaissance dalam format yang beda. Wynton bukan tidak sadar akan hal itu. Sikap kerasnya sekadar hendak menguji, hingga di mana jazz klasik yang “tak dianggap” itu terus melaju melebihi zamannya.
Di Orchard, Wynton pasti akan bekerja dengan posisi tawar. Sebagaimana sepak terjang Wynton Marsalis selama ini dalam membangun kerangka bermusik. Kompetensi Wynton kerap terlihat –perpaduan antara skill bermusik tinggi dan pemahaman berkomposisi. “Ketika yang lain mengatakan, jazz harus dikomparasi dan dimodernisasi, saya justru berkata sebaliknya.”
Karena ya itu tadi, jazz tak pernah ditinggalkan zamannya.
Marsalis Files
Wynton Marsalis lahir dari pasangan Dolores Ferdinand (musisi) dan Ellis Marsalis (pianis, penyair dan fotografer). Orangtuanya melahirkan 6 anak, masing-masing Branford (lahir 1960), Wynton (lahir 1961), Ellis III (lahir 1964), Delfeayo (lahir1965), Mboya Kinyatta (lahir 1971), dan Jason (lahir 1977). Selain Wynton, Branford, Delfeayo dan Jason juga menekuni musik jazz.
Keluarga Marsalis sangat menaruh perhatian terhadap musik. Usia enam tahun, Wynton belajar trumpet dari teman sang ayah, Al Hirt. Baru delapan tahun berikutnya tampil bersama New Orleans Philharmonic. Pada tahun 1978, Wynton mempertaruhkan keberuntungannya, menjadi siswa di Juilliard School of Music, New York City. Di kota inilah, debutnya sangat dicatat sebagai penggagas musik jazz paling menonjol di tahun 2000-an.






